Pengalaman Daftar Beasiswa Tanoto (Failed)

sebenernya ini pengalaman waktu semester dua, sekarang udah semester enam tapi baru berani post sekarang hehe
.
.
.
.
Semester pertama kuliah udah berlalu, Di semester pertama kemarin hari hari begitu tenang, dan tidur siang menjadi kegiatan rutin setiap hari. Alangkah selonya... tapi sekarang aku udah semester dua. Cepeeet banget!!!  Rasanya baru kemarin senyumsenyum bahagia karena lulus snmptn, eh tau tau sekarang udah mau naik tingkat aja.

Awal semester 2 kemarin aku apply beasiswa Tanoto Foundation National Champion Scholarship. Waktu itu pendaftarannya sekitar bulan desember sampai februari kalo gak salah. Aku daftar mepet  mepet penutupan. Sebenernya untuk mahasiswa tahun pertama, pendaftaran menggunakan nilai raport SMA, tapi karena aku daftarnya mepet penutupan dan waktu itu nilai IP semester 1 udah keluar,ya akhirnya aku pakai nilai IP aja. Karena aku cukup PD sama nilai IP ku waktu itu hehe.

Sekitar 1 bulan kemudian pengumuman hasil seleksi dokumen dishare di website Tanoto Foundation. Alhamdulillah banget aku lolos. Setelah seleksi dokumen selanjutnya tahap psikotest.Yang perlu  diperhatiin kalo mau psikotest versi karin adalah:
  •        Sarapan
  •        Jangan telat, karena buru buru saat telat akan mempengaruhi konsentrasimu dan otomatis mempengaruhi hasil psikotest.
  •        Tenang
  •        Jangan lupa ke toilet
  •        Perhatikan petunjuk pengerjaan
  •        Untuk tes menggambar pohon, manusia, dll perkirakan waktu! (kemarin aku gak merhatiin waktunya berapa menit, aku malah nggambar daun pohonnya satu satu. Ya gak kelar kelar lah. Alhasil, gambarku gak selesai )

Pertengahan mei pengumuman peserta yang lolos ke tahap wawancara udah keluar di website. Dan Alhamdulillah lagi aku lolos. Padahal awalnya udah down gara gara gambar yang nggak selesai. Dari pengumuman itu ke hari wawancara ada jeda sekitar 1 minggu lebih. Aku mulai browsing pengalaman penerima beasiswa Tanoto sebelumnya.

Hari H, peserta diharap hadir 30 menit sebelumnya. Karena kita harus ngisi form tentang rincian biaya hidup kita di jogja. Pertama dateng ngisi presensi dulu, terus nanti dikasi deh formulir yang harus diisi itu, terus tinggal tunggu sampe dipanggil namanya.

Di ruangan wawancara ada tiga pewawancara, 2 bapak satu ibu. Well, ini pengalaman pertama ku wawancara beasiswa dan yah begitulah. wawancara pertamaku ini bisa aku bilang aku gagalJ menurutku aku gagal dibagian waktu bapaknya nanya gini

“apa kamu aktif di media sosial?”

Aku jawab “saya nggak suka mengumbar kehidupan pribadi saya di media sosial”

Terus bapaknya nanya lagi “kan nggak harus masalah pribadi, mungkin posting pendapat atau hasil pemikiranmu”

Nah aku bingung tuh jawabnya. Dan bodohnya aku malah jawab “saya kadang mikir emang perlu saya posting pendapat saya”
.......
.......
Dan akhirnya wawancara berlanjut dengan nasihat nasihat supaya aku sebagai mahasiswa sastra harusnya lebih komunikatif entah melalui tulisan ataupun lisan. Karena aku nggak komunikatif secara lisan harusnya aku ngembangin diri di tulisan.

Terus selain itu mereka juga nasihatin aku buat lebih membuka diri. karena kmrn  kesalahanku lagi adalah aku nunjukkin bahwa aku lebih suka apa-apa sendiri dan susah percaya orang lain. ya kali mau ngerjain semua-semua sendiri. Jadi deh tambah dinasehatin.  Kata bapaknya yang keliatan paling berumur “Kamu tu nggak bisa hidup sendiri, dalam mewujudkan mimpi mimpimu kamu juga butuh bantuan orang lain. Cobalah untuk membuka diri. Coba mulai nulis, buka facebook, cari temen temen baru diluar sana, dsb”.  Denger bapaknya aku bener bener pengen nangis. Karena nahan nangis aku cuma bisa diem dan jawab sekali2 dengan suara yang bergetar dan gak jelas.

Kata kata mereka bener bener “jleb”, aku pengen nangis bukan karena aku nggak suka kritik dan saran mereka. Tapi karena emang semua yang mereka bilang bener, dan aku sadar aku emang bodo. Udah nggak bisa ngomong, naif, close-minded lagi. Kayak gitu kok pengen diterima seleksi beasiswa yang pendaftarnya ratusan. Hmmmm kariiin kariiin*gelenggelengkepala*.

Setelah serentetan nasihat  dan sebelum mengakhiri wawancara mereka tanya “ada yang mau ditanyakan?”
Aku jawab ragu ragu “kira kira 1-10 wawancara tadi nilainya berapa?”. Jelas-jelas wawancaranya jelek masih ditanya juga nilainya berapa. Gakpapalah buat evaluasi.

Terus ibunya jawab lima, karena aku emang nggak pinter berbicara dan menjual diri, tapi ibunya bilang kalo mereka menilai gak hanya dari hasil wawancara dan tetep nyoba tahun depan semisal aku gagal. Tapi aku tau kok ibunya bilang gitu biar aku gak terpuruk. Makasih bu. Tapi ya aku sadar diri lah, dengan wawancara yang ancur gitu aku gak bisa berharap banyak. Dan emang akhirnya aku gak ketrima hehe.

Silahkan dipetik hikmahnya menurut nalar masing-masing ya.

Nb  : walaupun gak ketrima, dari situ aku belajar banyak dan nyoba daftar beasiswa lainnya. Alhamduliillah sekarang udah dapet beasiswa lain *Horeeee*


Comments

  1. Waah keren kak thanks infonya... Share beasiswa yang kakak dapatkan dong..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts