Lampu Lalu Lintas Jepang
Sekitar setahun yang lalu di bulan September, saya menjajakkan
kaki di Jepang untuk pertama kalinya. Beberapa hari pertama hidup disini, saya
menyadari saat lampu lalu lintas disini akan mengeluarkan bunyi ketika warnanya hijau.
kemudian saat lampu lalu lintasnya berubah merah, dan lampu lalu lintas di sisi
lainnya menjadi hijau, lampu lalu lintas di sisi lain itupun gantian
mengeluarkan bunyi. Tapi bunyinya beda dengan sisi jalan yang sebelumnya.
Hal tersebut menarik bagi saya karena di Indonesia tidak ada
bunyi bunyian seperti itu. Saat itu saya tidak paham kenapa mereka berbunyi,
dan kenapa bunyinya beda. Hingga suatu hari saya pergi jalan jalan bersama
kakak tingkat saya yang sudah tinggal di Jepang kurang lebih 3 tahun, baru saya
mengerti. Bunyi itu ternyata merupakan penanda bagi tuna netra untuk mengetahui
sisi jalan mana yang lampunya hijau, sehingga mereka bisa menyeberang dengan
lebih mudah.
Diwaktu lain saat saya berjalan jalan dengan kakak tingkat
yang sama dan satu teman lainnya, saya menyadari selama ini saya sering melihat
para wisatawan yang mengajak pula keluarganya yang penyandang disabilitas eperti
tunagrahita atau tunadaksa. Saya juga sering melihat penyandang tuna daksadan
tuna netra berpergian sendiri, tanpa perlu didampingi.
Melihat penyandang disabilitas di Jepang rasanya saya jadi
iri. Di Indonesia saya juga pernah melihat penyandang disabilitas, namun hanya
ditempat tertentu seperti sekolah khusus, rumah sakit, panti dan sebagainya.
Sebenarnya banyak juga yang saya lihat di jalanan di Indonesia, tapi bukan penyandang
disabilitas yang sedang berwisata atau beraktivitas biasa, mirisnya yang sering
ada dijalanan adalah mereka yang terlantar dengan pakaian yang kotor dan sobek.
Setelah saya perhatikan lagi, mudahnya penyandang disabilitas beraktivitas di Jepang tidak lain karena cukupnya perhatian pemerintah terhadap mereka, sehingga fasilitas khusus penyandang disabilitas disediakan dengan baik. Rasanya hampir diseluruh stasiun ada toilet khusus penyandang disabilitas ataupun manula yang menggunakan tongkat. Gedung gedung juga menyediakan lift dan wheelchair ramp, jalan miring khusus pengguna kursi roda sebagai pengganti tangga pada gedung. Selain itu jalur trotoar khusus untuk penyandang disabilitas pun dapat banyak saya temukan.
Setelah saya perhatikan lagi, mudahnya penyandang disabilitas beraktivitas di Jepang tidak lain karena cukupnya perhatian pemerintah terhadap mereka, sehingga fasilitas khusus penyandang disabilitas disediakan dengan baik. Rasanya hampir diseluruh stasiun ada toilet khusus penyandang disabilitas ataupun manula yang menggunakan tongkat. Gedung gedung juga menyediakan lift dan wheelchair ramp, jalan miring khusus pengguna kursi roda sebagai pengganti tangga pada gedung. Selain itu jalur trotoar khusus untuk penyandang disabilitas pun dapat banyak saya temukan.
Tidak hanya fasilitas, saya rasa orang Jepang sendiri pun
menciptakan atmosfer yang nyaman dengan tidak menganggap penyandang disabilitas
sebagai tontonan ataupun sesuatu yang luar biasa. Di Indonesia, seringkali saat
ada penyandang disabilitas di kawasan public, orang orang akan merasa tertarik
dan berusaha mencuri curi pandang. Tentu saja saya paham, orang orang tidak
mempunyai maksud buruk dan hanya merasa penasaran karena ini merupakan hal yang
tidak biasa. Tapi tetap saja hal ini menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penyandang
disabilitas dan keluarga maupun teman yang sedang bersamanya.
Saya jadi berandai andai kapan ya Indonesia bisa menjadi
negara yang ramah difabel?

Comments
Post a Comment