My journey : Suka Duka Kerja di Hotel Jepang - Part 1 Awalnya Kenapa Resign

Bulan lalu aku akhirnya bilang ke HR kantor kalo aku mau resign. Aku udah kerja di hotel ini selama 3 tahun sejak April 2020 dan sebenernya selama itu udah beberapa kali pingin resign tapi baru kekumpul keberaniannya sekarang.

Sebelum resign aku pingin ngedokumentasiin masa-masa kerja di sini. Supaya bisa kubaca lagi suatu saat nanti, sekaligus buat mengenal diri sendiri lebih baik.

--------------------------------------------------

Jadi, kenapa mau resign?

Karena beberapa hal sih.

Awalnya mulai muncul keinginan resign itu di tahun 2022 waktu aku baru pindah dari Housekeeping ke Front Desk. Walaupun masih satu perusahaan, beda department udah beda suasana dan budaya kerjanya. Kalau di Housekeeping itu banyak sesama orang asingnya (Filipin, Vietnam, Myanmar), yang orang Jepang juga ada dan rata-rata usia 50an gitu.

 Orang-orang asing ini menurutku pribadi lebih ramah dan lebih asik diajak ngobrol, walaupun terkendala bahasa. Karena kami sesama orang asing ngomong pake bahasa Jepang yang bukan mother tongue kami, kadang ga paham 100% omongan satu sama lain tapi tetep asik aja ngobrolnya. Orang Jepang yang kerja di housekeeping juga ramah-ramah suka bawain cemilan, ngobrol santai setelah selesai kerja, suka ngasih petuah-petuah, cerita tentang daily life, mereka ga sungkan ngajak ngomong yang lebih muda duluan. 

Di front desk orangnya lebih ... apa ya nyebutnya. hmmm. kayak lebih kaku lebih tegas gituu. Mungkin karena garda depan, jadi harus selalu siap siaga dan ga boleh keliatan jelek-jeleknya gitu ya. Selain itu, di front lebih susah ngobrol sih, karena harus ngelayanin tamu sewaktu-waktu dan jobdesk selain itu juga banyak, sisa waktu buat bisa ngobrol itu sedikit. Untuk bisa ngebaur butuh waktu yang lebih lama dan effort lebih rasanya. Sopan santun dan hierarki junior-senior juga lebih kerasa. 

Selain itu alasan lainnya aku kesusahan waktu baru pindah, karena emang jobdesknya beda banget. Di front desk harus lebih banyak ngomong dan bahasanya harus keigo (kayak basa krama di bahasa Jawa). Pace dan Flow kerja ga bisa nentuin sendiri, lebih mengutamakan musyawarah, perlu tanya dulu sebelum nentuin sesuatu. Kalau di housekeeping memang maid-nya banyak, tapi karena posisinya sebagai koordinator justru lebih banyak ambil keputusan, walaupun kalau kasusnya susah tetep tanya ke senior atau manajer sih. Jobdesk housekeeping juga bebas ngutak-atik mau ngerjain yang mana dulu selama kerjaan selesai tepat waktu. Lebih マイペース(my pace) kalo istilahnya Orang Jepang.

Selain itu juga ada alasan, kayak rasanya di front desk tu salaaaah mulu aku tu. ga dipercaya gitu rasanya. Temen yang lain training sebulan udah ga diperiksa lagi, aku training udah tiga bulan kerjaanku masih diperiksa terus. masih didampingi terus, dsb. Ya mungkin karena aku orang asing ya, bahasa Jepang juga ga yang jago banget jadi mereka khawatir ya. Bisa dimengerti, sih. Tapi rasa kayak ga dipercaya itu bikin self-confidence yang dari awal emang cuma secuil ini jadi makin dikit, tinggal setitik *hiks

entah berapa kali nangis gara-gara ga betah, pingin resign. Udah sempat bilang ke asisten manajer juga, tapi diajak ngobrol, dikasih pengertian ya mungkin karena baru pindah jadi kerasa berat, dsb. Diajak ngobrol senior yang lain juga. Akhirnya, ga jadi pindah, harus kuat pasti bisa, mensugesti diri kayak gitu aja.

--------------------------------------------------

Skip setahun berlalu.

Sebenernya udah ga ada sih rasa kayak gitu lagi. Masa adaptasi udah lewat. Udah bodo amat, semisal masih ada yang ga percayaan ke aku ya udah biarin aja. Udah paham bahwa ga perlu bandingin diri sama orang lain, udah nemuin aku lebihnya di mana dan berusaha fokus ke itu aja. Udah bisa lemayan berbaur juga.

Sekarang aku ngerjain dua-duanya, front juga housekeeping juga tergantung shift-nya, karena member housekeeping abis ,  Ngerjain dua-duanya gini paling nyaman sih menurutku. Housekeeping dan member-membernya itu comfort zone, sedangkan front itu tempat latihan buat aku ngasah diri jadi lebih baik.


Nah terus kok kepikiran resign lagi?


.

.

.

.


lanjut part 2 biar ga kepanjangan, ya.


Comments

Popular Posts